Alasan Mengapa Tulisan Panjang Tidak Dibuat Berseri Saja.
Alasan Mengapa Tulisan Panjang Tidak Dibuat Berseri Saja.
Saya masih suka menulis teks yang panjang bukan karena suka memanjang-manjangkannya. Ada pun saat menulis pendek bukan karena suka memendek-mendekkannya. Bukannya saya tidak tega untuk memangkasnya dengan brutal. Tetapi saya ingin menyampaikan dengan lebih presisi dan sesuai dengan gaya saya. Mengapa tulisan panjangnya tidak dibuat berseri saja? Saya sudah mencobanya—dan saya sering mati bosan untuk merampungkan seri itu sendiri. Terlalu capek membuat pembukaan untuk seri berikutnya. Terlalu bosan jika harus mengulang inti yang sama di setiap serinya. Tulisan saya yang berjudul "Berkenalan dengan Zettelkasten: Metode Manajemen Pengetahuan yang Revolusioner", sudah saya buatkan kerangkanya, dan sudah direncanakan untuk menjadi 10 seri. Sedangkan tulisan Menelusuri Warisan Linguistik Dialek Quraisy—Antara Bahasa Arab Klasik dan Identitas Keagamaan juga sudah saya rencanakan terbit berseri. Tetapi begitulah kenyataannya, saya sudah mati bosan duluan untuk merampungkannya. Tidak punya cukup daya dan energi. Kita semua tahu membuat pembukaan, pendahuluan dan latar belakang masalah yang memancing hook itu bukan perkara yang mudah, bahkan jauh lebih sulit dari pada menuliskan isinya, bukankah begitu? Membuatnya untuk setiap seri? Menyebarnya dalam setiap transisi ke sub bab? Membuat yang sama dan berulang-ulang di setiap seri… sungguh bikin mati gaya, bosan… dan lelah.
diekstrak dari: Draft Survive atau Mati - Peluang Tulisan Panjang di Tengah Gempuran Konten Singkat | 202507020744
My Substack -Satu Paragraf | Alasan Mengapa Tulisan Panjang Tidak Dibuat Berseri Saja